Pages

Sunday, August 31, 2014

Tiket Murah dan Perjalanan yang kaya

“Kak, pesawat.” kata adikku sambil berlari keluar rumah. aku yang saat itu sedang menyapu ikut menghamburkan diri keluar. Berdua kami mendongak ke atas melihat benda kecil yang bergerak menembus awan. Kami tidak mengalihkan mata kami hingga pesawat yang kami lihat dari jarak yang sangat jauh itu menghilang. Hati kami bersorak. Walau hanya sebesar jari jempol kecil kami, namun melihat pesawat dari kejauhan adalah hiburan bagi kami, anak desa yang jauh dari kota apalagi bandara. Terkadang kami melambaikan tangan kami keatas, berharap penumpang pesawat melihat dan tersenyum pada kami di bawah.
Melihat pesawat juga merupakan kebanggaan bagi kami antar teman, apalagi jika melihat jet yang terbang lebih cepat dan menyisakan asap di ekornya ketika melintas. Kami saling pamer kapan saja kami melihat pesawat. Belum seorang pun yang pernah melihat langsung pesawat dalam ukuran yang lebih besar dari jempol jari kami. Melihat pesawat akan selalu menjadi bagian cerita kami.
Bapak selalu mengatakan bahwa yang naik pesawat itu hanya orang-orang kota yang kaya. Aku sedikit kecewa, namun tidak mau menyalahkan nasibku yang terlahir sebagai anak desa. Tapi Bapak juga selalu meyakinkan kami bahwa kami bisa pindah ke kota dan naik pesawat jika belajar tekun. Kata yang membuat hatiku bergelora dan melahirkan harapan bahwa aku bisa naik pesawat yang selama ini hanya bisa aku lihat dari jarak yang jauh sekali. Aku membayangkan diriku sedang melambai ke bawah melihat teman-temanku yang juga melambai dan memanggil-manggil namaku.
Ketika kuliah akhirnya aku bisa memijakkan kaki di kota Medan. Aku lulus pada salah satu Universitas terbaik di kota ini. Bapak tidak salah. Pendidikan lah yang akhirnya membawaku ke kota. Aku senang sekali walau akhirnya banyak yang harus kusesuaikan. Mimpi untuk naik pesawat masih terus membara dalam benakku. Aku yakin jalan itu pasti ada.
Akhir April 2008, Media Kampus yang saat itu kuikuti menawarkan Kegiatan Magang di salah satu perusahaan Media di Jakarta. Aku ragu. Jakarta cukup jauh dan tidak ada kerabat yang akan kukunjungi. Namun aku juga membenci ketakutan yang ada dalam diriku. Kapan lagi aku akan pergi berkunjung ke kota lain dan yang paling penting adalah aku akan naik pesawat. ya, Aku akan naik pesawat. Sore itu, aku mendaftarkan diri menjadi salah satu peserta magang.
Kali ini halangan yang kuhadapai bukan dari diriku sendiri. Namun pada biaya yang sedikit memberatkan orangtuaku. Aku juga kasihan jika harus membebankan mereka. Biaya makan akan ditanggung oleh perusahaan tempat magang, perusahaan juga akan memberikan sedikit uang saku, namun tidak untuk transportasi. Ongkos naik bus pun cukup mahal, belum lagi biaya makan di jalan. Hampir saja keputusanku untuk berangkat ke Jakarta kubatalkan. Namun Tuhan berkehendak lain. Sarah, salah satu temanku mengabarkan jika Maskapai Airasia sedang promo tiket Medan-Jakarta.
Tiba-tiba aku sangat semangat. Sarah membuka laptopnya, mencari jaringan Wifi dan membuka situs Airasia. Dan.. 199 Ribu. Iya, tiket dari Medan ke Jakarta hanya sebesar itu. Aku langsung meminta tolong untuk memesan tiket untukku. Sarah membantuku mengisi data informasi. Namun kami memiliki kendala yang lain. kami tidak memiliki kartu kredit. Sedangkan sarana pembayaran di situs Airasia saat itu hanya melalui kartu kredit. Tiba-tiba aku ingat temanku Rini yang sehari-harinya berkenderaan mobil ke kampus. Aku menghubunginya dan menanyakan kartu kreditnya. Dia juga tidak punya namun menawarkan untuk meminjamkan punya kakaknya untukku. Pertolongan kembali datang, Kakak Rini memberi ijin dan percaya pada kami sehingga memberi data-data kartu kreditnya pada kami. Kini tiketku ada di email.
Orangtua dan adikku ikut mengantar ke Bandara Polonia ketika aku akan berangkat. Walaupun baru pertama kali namun aku harus pergi sendiri. Mamak berkali-kali mengingatkanku untuk banyak bertanya. Aku menyalami mereka satu per satu. 90 menit sebelum keberangkatan aku telah berada di counter check in. setelah membayar Airport tax, aku diarahkan menuju waiting room yang terlalu dingin untukku.
Aku menghela nafas bahagia. Pesawat dengan ukuran sebenarnya telah berada di depanku. Berkali-kali aku mengucap syukur. Aku tidak akan hanya melihat, namun juga akan menumpang hingga Jakarta. Ketika panggilan untuk penumpang Airasia rute Medan-Jakarta bergema, aku melangkah mengikuti puluhan orang yang berkerumun. Aku memberikan Boarding Pass pada penjaga wanita yang cantik dan langsing, wanita itu menunjukkan pesawat yang harus kunaiki. Betapa megahnya pesawat yang akan kunaiki, ditambah warna merah merona, Pesawat Airasia yang akan kunaiki itu terlihat gagah dan kuat.
Aku duduk tepat di samping jendela. Ketika mulai take off, tak henti-hentinya aku melihat keluar jendela. Aku menikmati kota Medan yang semakin lama semakin kecil, pemandangan awan yang mirip tumpukan salju. Terkadang aku penasaran apakah aku akan melewati kampungku, dan melihat anak-anak sedang melambai kearahku. Tidak ada. Aku pun tidak bisa membalas lambaian mereka. Aku tersenyum lebar dalam hati. Tidak seperti penumpang disampingku, dalam 2 jam perjalanan aku tetap terjaga menikmati penerbangan pertamaku.
Airasia telah memberikan kepercayaan diri untuk bermimpi lebih jauh. Harga tiket yang diberikan telah meyakinkanku bahwa pesawat bukan hanya untuk orang kota dan kaya. Airasia juga telah meyakinkanku bahwa aku tidak ingin sekedar naik pesawat, namun aku menikmati tempat baru, mencintai keasinganku, dan ingin melakukannya lagi. Jakarta adalah awal dari itu semua. Aku ingin menjadi pelancong.
                                                          Perjalanan ke Elnido, Filipina
Hal itulah yang membuatku sering sekali membuka situs airasia untuk mencari tiket murah. Ketika kuliah, aku menabung untuk bisa sampai di Padang dan Bandung. Aku rela untuk tidak membeli baju baru demi membeli tiket. Hal itu berlanjut ketika aku mulai bekerja di salah satu bank. Cuti-cutiku selalu kugunakan dengan maksimal. Di awal tahun, aku sibuk mencari tanggal merah sehingga bisa libur panjang. Semua waktu tersebut kugunakan untuk bepergian. Banda Aceh, Pulau Weh, Bali, Lombok, Yogyakarta, Kuala Lumpur, Penang, Singapura, Phuket, Krabi, dan Filipina telah kujelajahi. Sabtu Minggu terkadang kugunakan untuk menikmati wisata local di Medan seperti Berastagi, Danau Toba, dan juga Tangkahan.
Aku mencintai traveling. Hobi yang tak pernah kupikirkan sebelumnya. Aku tergila-gila pada kegiatan ini dan aku bersyukur telah menggunakan masa mudaku untuk bepergian. Banyak sekali pengetahuan baru yang kudapat, teman-teman baru, dan hal-hal unik di setiap daerah. Bagiku, traveling adalah sebuah kekayaan yang tidak bisa dihitung. Semakin sering bepergian, aku merasa semakin kaya walau sering sekali harus rajin mencari tiket super murah. Terima kasih Airasia.

Wednesday, June 18, 2014

Tulisan saya di majalah


Setelah di Panorama dan berhasil menjadi pemenang (hadiahnya tas Brigg and Riley seharga 2,5 juta) Saya mengirim tulisan saya yang berbeda ke salah satu majalah di Medan. Namanya DIGi Magazine. Nah ini dia penampakannya :)



Thursday, May 29, 2014

DREAM OF ENGLAND

Berastagi, 29 Januari 2011
Di Bawah sebuah Pohon Beringin yang rindang, aku duduk manis sambil menerawang ke depan. disampingku beberapa teman juga melakukan hal yang sama. Kami menikmati suasana padang rumput yang hijau dan lapang. Sesekali aku merapatkan tubuh untuk menahan hawa dingin.
“Eh, Bang Harry sekarang lagi di Jerman ya ?” tiba-tiba Devi memecah kesunyian.
“Kak Dina juga sekarang lagi di Belanda” tambah Dina, menyebut salah seorang senior kami di Organisasi Kampus yang sedang kami geluti sekarang.
“Enak kali mereka ya, “ kata Devi lagi dengan sangat “Medan”
“Tenang Wi. Nanti kita juga bisa ke London,” kataku dengan semangat.
Tiba-tiba semua tertawa. Milina yang juga merupakan senior kami bertanya dengan nada mengejek.
“Mau ke London iya, Zon ?” semua tertawa lagi tanpa terkecuali. Aku hanya tersenyum kecut. Yang lain juga ikut menyebut Kota tersebut untuk mengolok. Pohon beringin itu kini tidak hanya rindang, tetapi juga ramai.
Mereka menertawakan cara aku menyebut “London” bukan dengan “Landen” yang lebih inggris, melainkan  menyebut “Lo” dengan mulut sangat bulat dan huruf “D” yang sangat dalam dan jelas sehingga mengesankan London adalah nama salah satu daerah di Sumatera Utara. Aku hanya tersenyum malu. Bukankan mimpi kita kurang besar apabila belum ditertawakan ? Abaikan alasan tawa mereka.
***
Jakarta, 5 November 2014
Malam itu, ketika sebagian warga kota Jakarta mulai bermimpi, aku malah baru menginjakkan kaki di Bandara Soekarno Hatta. Setelah membayar dan  mengucapkan terima kasih pada supir taksi, Kutarik Luggage ku yang berukuran sedang menuju Check in Counter salah satu penerbangan terbaik di Dunia. Malam itu Bandara tidak terlalu ramai seperti biasanya. Setelah check in, membayar Airport Tax dan pemeriksaan dokumen di bagian Imigrasi, aku menuju Boarding Lounge. Menurut Jadwal di tiket, aku akan berangkat 2 jam lagi. Aku memang lebih suka menunggu agak lama daripada harus terburu-buru. Apalagi ini merupakan penerbangan terjauhku, penerbangan pertamaku dengan salah satu maskapai terbaik di dunia, dan untuk pertama kalinya akan menginjakkan kaki di Benua Eropa.
London Headthrow Apt, itulah yang akan menjadi tujuanku kali ini. Penerbangan dari Jakarta akan memakan waktu sekitar 15 jam dan transit di Singapura. Senyum lebar tersungging di bibirku. Aku telah membayangkan perjalananku di Negara Britania Raya tersebut. Persiapanku cukup matang. Itinerary telah kupersiapkan jauh-jauh hari, outfit musim gugur yang akan kukenakan selama 7 hari disana telah kurencanakan 2 minggu sebelum keberangkatan, berbagai informasi tentang liburan di Negara ini telah kubaca. Aku tidak ingin menyianyiakan perjalanan berharga ini. Ini adalah mimpi besarku. Dari SMA aku telah menginginkan hari ini, dan sering sekali terucap dalam doa.
Aku sama sekali tidak percaya bahwa aku akan melihat Landmark kota London, Menara Big Ben, menikmati apiknya desain Westminster Palace, menikmati pemandangan dari atas menara di Tower Bridge, berfoto bersama beberapa patung tokoh di Madame Tussauds London, berfoto di depan Buckingham Palace  dan Hampton Court Palace serta menikmati keindahan berbagai jenis Flora di Royal Botanic Garden. Dan yang pastinya aku akan berfoto mengikuti gaya The Beatles di Abbey Road. Pepatah yang mengatakan “perkataan adalah doa” tidak akan kupungkiri lagi. Ini adalah perkataanku tiga tahun yang lalu. Dan merupakan mimpiku sejak mengenal Pelajaran Bahasa Inggris di sekolah.
Aku tersenyum betapa bangganya orang tuaku ketika mengantarkan aku ke Bandara Polonia di Medan. Beberapa kali mereka mengingatkanku untuk membawa banyak baju hangat. Aku hanya tersenyum dan meyakinkan mereka bahwa di Negara Pangeran William tersebut sedang musim gugur dan tidak dingin. Suamiku juga ikut mengantarkan aku. Ah, betapa aku ingin pergi bersama dengan lelaki penggila bola ini. Menikmati suasana Stadion Liga Utama Inggris yang selama ini hanya dilihat di televisi. Tapi karena sedang sibuk, dia hanya memepersilahkanku untuk pergi dengan segudang nasehatnya. Aku berjanji bahwa aku akan membawa papan berisi namanya dan berfoto di setiap stadion yang aku kunjungi selama disana.
Kebahagiaan ini tidak sampai disitu saja, karena tiket, akomodasi, dan uang saku selama 7 hari di Negara Kerajaan Ratu Elizabeth tersebut disponsori oleh Mister Potato dan Smax, cemilan yang ikut memenuhi Cabin Baggageku. Aku berniat untuk berfoto dimana saja dengan membawa cemilan tersebut sebagai bentuk terima kasih yang sangat dalam karena mewujudkan impianku. Beberapa orang yang juga sedang menunggu di Boarding Lounge mulai heran melihat tingkahku yang selalu tersenyum senang. Tapi aku biarkan saja, mereka hanya tidak merasakan seperti yang kurasakan. Hatiku berdegup kencang. Perasaanku secerah Daun Maple di Musim Gugur.
Pengumuman untuk memasuki pesawat telah terdengar. Walau malam telah larut, tapi semangatku tidak luntur. Aku melenggang mantap diatas Garbarata menuju pesawat. Setelah dibantu oleh seorang pramugari untuk menyimpan barang, aku duduk di seat yang kebetulan disamping jendela. Aku kembali tersenyum lebar. Inggris adalah impian, dan sekarang aku akan menuju kesana. Setelah pilot memberi salam dan para pramugrasi telah melakukan demo keselamatan, pesawat bergerak pelan menuju pacuan take off. Kota Jakarta kini hanya terlihat seperti city light yang kecil dan berkilauan. Aku merilekskan badan dan menurunkan sandaran kursi. Walau tidak sabar untuk sampai, tapi rasa kantuk mampir juga.

Medan, 28 Maret 2014
Pagi ini aku terbangun dengan perasaan bahagia. Jarum pendek pada jam baru  saja menunjukkan angka Lima. Terima kasih pada kualitas tidur yang mampu membahagiakan kita ketika bangun. Aku menyingkirkan selimut dan mengucek-ngucek mata, melihat sekeliling dan menemukan diriku berada di kamar ukuran 4 X 4 dengan suhu AC yang terlalu dingin di waktu subuh. Laptop, Mister Potato dan Smax masih tergeletak di meja, proyek tadi malam.
Ya, Paragraf pertama diatas adalah kenyataan dan benar-benar terjadi. Silahkan tersenyum tapi jangan menertawakan lagi. 5 paragraf selanjutnya adalah sebuah harapan yang bersandar pada Mister Potato dan Smax yang bisa memberikanku kesempatan untuk  mewujudkannya. Itu bukan hayalan karena bisa saja terjadi. Aku pasti akan menulis segala pengalaman, keindahan, dan suasana ketika berada di Negara dengan jumlah jajahan terbanyak ini dan membaginya ke semua penghuni dunia maya. Mister Potato dan Smax, tolong beri kesempatan pada wanita yang telah lama berharap ini.

Dear Mister Potato and Smax, Give me the chance
Mister Potato and England, my dream
Belum sempat difoto, udah dibuka dan habis

Saturday, April 12, 2014

BERMALAM DI PHI PHI ISLAND

Kami berlari-lari dengan ransel penuh dipunggung begitu turun dari mobil, memeriksakan tiket pada petugas, dan kembali berlari melewati lorong sepi yang panjang di Krabi Tharua Boat Pier, dermaga di Kota Krabi. Kami lega bukan main setelah menginjakkan kaki di geladak kapal. Kami adalah penumpang terakhir kapal ini. Terlambat sedikit saja, kami harus merelakan satu malam di Phi Phi Island karena kapal tersebut merupakan shift terakhir di hari itu.

Kapal pun mulai menaikkan jangkar untuk menghantarkan kami beserta turis lain ke tujuan, Pulau Phi Phi. Sebagian besar penumpang merupakan turis barat yang berkulit putih. Thailand memang tidak pernah sepi akan tamu dari berbagai belahan dunia. Setelah kurang lebih 1,5 Jam berada di Kapal yang kami bayar dengan harga 450 Baht ini, akhirnya kami sampai di Phi phi Island.
Begitu turun dari dermaga, kami langsung ditawarkan penginapan dan paket perjalanan. Namun kami adalah pelancong yang menganut ajaran ekonomi, dengan modal sekecil-kecilnya mau dapat yang sebesar-besarnya dan sebagus-bagusnya. Tentu saja calo tidak pernah kami pakai. Kami lebih senang bertanya dan mendatangi hotel sendiri.
Ketika sedang melihat peta, seorang perempuan dan anaknya yang memakai jilbab menghampiri kami, mereka juga penumpang di kapal yang sama dengan kami dari Krabi. Sang ibu menyapa kami dengan bahasa thai. Langsung dengan perasaan bangga kami menjawab “We don’t speak Thai.” Entahlah rasanya menjadi turis dan dengan bahasa inggris pula menaikkan derajat kami. Pemikiran yang bodoh bukan? Singkat cerita, akhirnya mereka tahu bahwa kami ingin hotel paling murah di Phi-phi Island. Setelah berbicara melalui telepon, si Ibu menawarkan hotel di dekat hotel tempat dia bekerja. Kami mengiyakan.
Flower Bungalow, ada 2 kata bermakna kembang bukan? Kamarnya terdiri dari pondok-pondok kayu yang terasnya digantungi Hammock dan didekatnya ditanami bunga Melati yang berwana-warni dan wangi. Kami memilih kamar dengan fasilitas Kipas angin dengan harga 900 Baht. Ada juga kamar sharing dorm dengan harga 250 baht per orang. Pemilik penginapan cukup ramah dan mengajak kami makan malam bersama.
Phi phi Island terdiri dari 2 pulau. Phi Phi leh yang terkenal dengan Maya Baynya dan juga Phi phi don yang sekarang kami kunjungi. Seperti pulau-pulau yang dikunjungi turis lainnya, Phi phi don dipenuhin dengan penginapan, restauran,  street food, café, bar, toko souvenir, convenience store, dan juga travel agen yang menawarkan paket perjalanan. Kami memesan paket perjalanan setengah hari dengan harga 500 Baht, dan tiket menuju Phuket seharga 250 baht.
Pada sore hari kami menyusuri Loh Dalum Bay, yang lautnya surut sehingga menyisakan banyak ruang kosong yang kering untuk melakukan apa saja. Kursi-kursi plastik putih telah berjejer rapi di depan setiap restauran dan bar. Beberapa turis bermain bola, sebagian lagi hanya berfoto-foto seperti kami. Matahari hampir saja menyelesaikan pekerjaannya, menyisakan mega merah di langit dan membentuk siluet pada tebing di kejauhan sehingga meninggalkan panorama yang dramatis.
Pada malam hari, Keramaian di pulau phi-phi memuncak. Setiap sisi pasti dikerumuni turis. kursi kursi putih yang berjejer di pantai kini dipenuhi oleh manusia. Beberapa meja terisi dengan bong, minuman serta wadah plastik mirip pot bunga bertali yang yang ternyata juga berisi minuman. Hampir semua turis membawa wadah tersebut. Saya sendiri aneh melihat wadah plastik tersebut yang sama sekali tidak menginterpretasikan sebagai tempat minuman.
Seluruh keramaian malam ini ternyata juga disebabkan oleh Live Fire show yang di mainkan sepanjang pantai. Setiap bar berlomba lomba memainkan atraksi  untuk menarik pengunjung dan memeriahkan Phi-phi Island. Hulahup api, lompat tali api, atraksi tongkat api, bunga api, semburan api hingga berjalan diatas tali sambil memainkan tongkat api adalah penampilan yang sering ditampilkan dan diiringi dengan musik yang keras. Pengunjung tidak perlu mengeluarkan uang sepeserpun untuk menikmati atraksi ini.

Keesokan harinya, Setelah menitipkan tas pada loker yang disediakan Flower Bungalow karena kami akan kembali diatas batas jam checkout, kami melakukan tour  setengah hari yang dimulai dari jam 8 hingga jam 2 siang. Dan hanya kami berdua dan guide yang berasal dari Asia. Pertama sekali kami akan snorkeling untuk melihat Hiu di shark point, hanya membutuhkan waktu 5 menit menuju lokasi ini dari pantai tempat kami menginap. Tapi tampaknya hari itu bukanlah hari keberuntungan kami. Pada awalnya kami masih bisa mengikuti guide yang kami yang lincah berenang kesana kemari, lama-lama kami tertinggal karena arusnya yang cukup deras, dan tentu saja kelelahan mengikuti kelihaian si guide yang mungkin sejak lahir sudah hidup di laut. Dan ketika ditanya, tidak satu pun dari kami yang melihatnya kecuali si guide.
Selanjutnya kami menuju Viking cavé, ini hanya sebuah gua yang menempel pada dinding karang di tengah laut. Kita hanya bisa menikmati ekskotis gua ini dari kapal karena gua tersebut dilindungi oleh pemerintah Thailand karena dihuni oleh wallet yang cukup berharga. Dari Viking cave kami menuju Koh Pileh Lagoon, salah satu spot favorit saya. Seperti namanya lokasi tersebut merupakan sebuah laguna, swimming hole dengan air tenang dan bersih berwarna turqoise yang dikelilingi oleh tebing batu kapur karst. Disini kami diijinkan untuk berenang. Pemandangannya mengagumkan. Beberapa turis terlihat memanjat tebing untuk kembali terjun ke laut.

Dan akhirnya tibalah kami pada pantai yang merupakan icon Phi phi Island dan terkenal lewat film The beach-nya Leonardo Dicaprio, Maya Bay. Disini kami diberikan waktu yang lebih lama untuk bersantai sekaligus menikmati makan siang kami. Pantai ini memang indah, berpasir putih, lautnya bening kehijauan, dan dikelilingi oleh tebing yang menambah pesona maya bay, namun sangat ramai. Kami tidak terlalu bersemangat untuk berenang dan lebih memilih untuk menjelajahi isi hutan Maya Bay. Walau tidak ada hotel atau restauran, di Maya Bay telah dibangun fasilitas toilet untuk para turis.
Dalam hutan Maya Bay, kita seperti berada di dunia baru yang penuh petualangan. Kita akan melewati jalan setapak yang kanan kirinya dipenuhi dengan pepohonan. Diujung perjalanan kita akan menemukan tangga untuk naik ke tebing dan melihat pemandangan yang… Wow. Air sebening Kristal kehijauan, dengan tebing indah yang ditumbuhi pepohonan hijau sebagai background ditambah angin sepoi-sepoi membuat kami berlama-lama. Hanya saja kami kasihan membayangkan Ahmad, guide kami akan berteriak dan berjalan kesana kemari mencari penumpang Asianya.

Pada kali ini aku benar-benar tidak suka dengan keputusan Ahmad. Demi melihat Penyu, kami dibawa pada laut dalam, berarus deras, dan pemandangan bawahnya hanya ikan kecil-kecil tanpa cahaya matahari pula karena sinarnya dihalangi oleh tebing tinggi di sisinya. Baru berenang lima menit saja, aku sudah buru-buru menuju kapal karena benar-benar tidak nyaman dengan suasananya. Dan aku menyesal kenapa dia tidak membawa kami menuju spot snorkeling yang dipenuhi ikan-ikan yang akan berkerumun karena roti yang kami tebarkan. Tapi tampaknya kali ini aku saja yang kecewa karena peserta tour lain sumringah begitu tiba di kapal. Mereka melihat dua penyu.
Tepat jam 2 kami kembali tiba di Phi phi Don, jadwal kapal kami menuju Phuket akan berangkat sejam lagi sehingga dengan buru-buru kami mandi dan mengganti baju. Setengah jam menjelang jam 3, kami telah tiba di dermaga yang padat. kami harus antri dan mendapat stempel sebagai boarding pass untuk masuk ke kapal. Kapal yang akan membawa kami menuju Phuket merupakan kapal besar 3 tingkat. Ada tiket ekonomi dan eksekutif. Kapal cukup bersih dan rapi. Hanya butuh 1,5 jam perjalanan hingga tiba di Pelabuhan Phuket. Sebelum keluar dari kapal, kami dipersilahkan mengambil buah Nenas, Semangka dan Jus yang disediakan secara cuma-cuma. Benar-benar liburan di kawasan Tropis yang menyenangkan :D

Tips and Trik Hemat di Phi phi Island
  • Tidak usah membeli tiket Kapal di Bandara Krabi. Naik saja bus bandara dengan tarif 90 Baht menuju Krabi Town dan bilang ke supirnya kita mau ke Phi phi Island. Mereka akan mmberhentikan kita pada sebuah travel agen yang lebih murah.
  • Kalau Jalan dari Krabi menuju Phi-phi Island, tidak usah membeli tiket kapal pulang pergi. Di Phi phi island lebih murah
  • Ketika memilih tour dan tiket menuju Phuket, jangan lupa untuk terlebih dahulu membandingkan harganya. Karena pelayanan dan kapalnya sama.
  • Ongkos dari Pelabuhan Phuket menuju Patong 150 baht per orang. Itu harga standard an paling murah. Tidak usah mencari harga yang lebih murah :D